Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, January 9, 2022

Masalahnya adalah jarak

Ku lipat rapih namamu. 
ku kirim lewat doa.
aku lagi mengadu. 
semoga kau tak mendua. 

jarak adalah rasa takut.
waktu adalah harapan yang tidak pasti. 
resah ku semakin akut. 
pikiran ku semakin mati. 

ku titip semuanya, semoga sujud yang akan menjawab. 
doa-doa berterbangan, semoga tak ada angin yang membawanya lari. 
aku menunggu di tempat biasa karena sebab.
ku harap kau tidak lari dari mu dan juga janji.

Risman Handayani, Des 2021.

Tuesday, January 4, 2022

Penjara di rumah sendiri

Bangsatnya, kemiskinan menjadi tawanan yang kekal. yang pintar, pendidikannya di bayarkan agar bungkam dan tidak bernyali. suara yang lantang hanya di ruang-ruang diskusi, tidak sampai di telinga penguasa. kekesalan dan amarah terlontar di pinggir jalan, setelahnya tidak ada lagi kabar. berita-berita di rumahku saling menutupi hingga terlupakan. omong kosong benar adanya. tahun-tahun berganti, toga di kepala menjadi kebanggan hingga lupa diri dan tugas sebenarnya. kini, harga diri lebih penting dari pada kemanusiaan itu sendiri. bayaran tidak cukup, adalah pekerjaan yang melelahkan. idealis, kini sudah mati sejak lama.  lari dari tekanan, dan tanggung jawab sudah menjadi biasa-biasa saja, bahkan saling mendukung untuk tidak ikut campur. konyol katanya, mati di medang tempur tidak lebih terhormat di banding menjilat sana sini. rumahku, ruang diskusi itu sudah rubuh. rumahku di kepalaku terpenjara karena ketakutan. rumahku di tutup paksa karena aturan. maju sendiri adalah bunuh diri di antara pejuang yang mengatas namakan kakanda.

Risman Handayani, Des 2021.

Wednesday, December 29, 2021

Tanpa kau sadar

Nelangsa rupanya dirimu. 
Tidak ku sangka caraku menyakiti.
hatiku tak tahu di ketuk pintu.
maaf bukan niat menghindar diri.

Aku sudah kepunyaan orang. 
Bukan berarti lakuan mu harus berubah. 
Hatimu membuktikan hanya peduli untuk rasa yang kau beri gelang.
Aku sudah paham, yang kamu maksud bukanlah yang utuh. 

Satu kalimat membuat mu patah. 
itu bukan aku, tapi harapan mu.
cinta adalah proses, penuh rasa bukan resah.
Bukan salahku jika tidak membuka pintu. 

Terlalu cepat sajak itu terbang dan menghantam.
Aku di hina dan ditikam.
Tanpa kau sadar, aku bukan perempuan yang suka mendua yang muda percaya.
lelaki seperti mu, benar seperti buaya. 

Kata indah berubah jadi maki.
kata ramai kau kata sunyi. 
Jangan bersandiwara, hanya karena kau menyukai.
kata sundal bukan lah kehidupan, hanya karena aku telah di miliki.

Risman Handayani, Des 2021.

Friday, December 24, 2021

Menyukai dalam Diam

Tidak pandai hati ku menutupi.
Dia ingin selalu menatap mu.
Kejauhan, ingin rasanya ku memiliki.
Meskipun hatimu sudah di miliki, tapi itu bukan aku. 

Kukira hanya sekedar bunga, tapi ternyata memiliki duri.
hampir saja tangan ku tertusuk, hingga aku lupa diri.

Rapuh dan mati rasaku.
Harapan berganti kecewa seketika.  
Semuanya begitu singkat.
Tidak ku sangka, suka berganti luka.

Hina rasanya menyukai mu dalam diam. 
biar ku tulis saja dalam bentuk sajak.
meskipun kau tidak sadar. 
harapan itu masih ada. 

senyum mu telah membuat ku mati.
ceria mu membuatku ramai.
aku hilang diri.
aku lupa diri.

Risman Handayani, Des 2021.

Saturday, December 18, 2021

Masa(lah)lu

Andai saja kau tahu tentang luka ku.
kau juga akan tahu, sampai detik ini.
aku masih mengenang mu yang telah pergi.
mungkin kah itu akan kembali. 
atau hanya harapan di hati kecilku.

masih kah engkau merindukan ku.
sama halnya aku merindukan mu.
tapi kau hanyalah puing dari masa lalu ku.

aku masih merindukan mu.
pikiran dan hatiku enggan melupakanmu.
kutahu kau adalah bunga yang telah layu
 kau adalah masa lalu yang berlalu. 

andai saja kau tidak melakukan ini.
kau dan aku masih bersatu.
menikmati senja setiap saat.
tapi apalah daya, kau memilih untuk pergi dengan yang lain.

setahun sudah berlalu.
sayang itu masih utuh meskipun sengaja pernah kau lukai.
hati ini selalu berharap kepulangan mu.
tapi biarlah, aku tidak sesempurna pilihan mu.

maafkan aku kekasih masa laluku.
aku tidak bisa jadi yang kamu inginkan. 
jika ada kesempatan kedua. 
aku akan menjadi orang yang kamu inginkan.

maafkan aku kekasih masa laluku. 
rasaku ini tetap utuh di akhir hayat ku.
meskipun kamu pikir aku orang yang bodoh untuk bertahan.
maka biarlah aku bodoh hingga cintaku juga tiada.

Risman Handayani, Des 2021.

Tuesday, December 14, 2021

Realita

Matahari terbit bersinar kejam
tidak ada celah setiap lubang ruang
pagi itu siap menghantam
jalan mulai menegang

Bukit-bukit di pinggir kota berembun
tetesan daun mulai mengering
sebentar lagi, mimpi itu terbangun
banyak rupa yang sudah mulai berakting

Burung-burung bernyanyi riang
kopi dan cerutu mulai mengosong
sarapan piring siap cuci
sampah halaman terbakar habis

Risman Handayani, Des 2021.

Thursday, December 9, 2021

Terperangkap

Aku tidak ingin mati
Aku tidak ingin hidup
Mati dalam luka tanpa tepi
Hidup menanti dan mengharap

Aku tidak ingin menangis
Aku tidak ingin terlihat kuat
Menangisi luka yang berlapis
Kuat menantang hati di ujung maut

Aku,
lemah di ruang gelap
menanti harap
Ku pikir ini tidak adil
mungkin hatiku yang kerdil

ahhhhh, 
aku terlalu jadi budak dalam cinta
harusnya aku bisa lupa.

Risman Handayani, Des 2021.

Saturday, December 4, 2021

Di Kamar Teduh

Wajahmu nampak murung sayang.
Gelisah itu tersirat mendung.
ah, mungkin kamu butuh kopi atau teh.
Biarkan aku yang menemanimu dan sedikit cerita sedih. 

Hujan makin deras saja sayang, di mata mu. 
apakah cerita sedih tidak cocok untukmu. 
Atau kamu tidak suka kopi atau teh.
Boleh aku ganti dengan pelukan teduh.

Sayang...
jangan murung, 
di kamar ini, ada aku yang memelukmu dengan teduh.

Sayang...
jangan bersedih,
di kamar ini, ada aku yang tidak akan pergi tetap memberi kasih.

Risman Handayani, Des 2021.